Rapid Test di Bintuni Gratis, Manokwari Dipungut Biaya?

Dikutp dari PAPUADALAMBERITA.COM. BINTUNI – Pemeriksaan rapid test yang menjadi langkah awal deteksi dini bagi masyarakat yang dicurigai positif terpapar corona virus disease 2019 (COVID-19) seharusnya tidak dibarengi biaya administrasi ratusan ribu rupiah.

Apapun alasannya termasuk masyarakat yang punya keperluan pribadi keluar daerah kemudian membutuhkan surat kesehatan yang didasarkan pada hasil rapid test dari Rumah Sakit Umum Darah (RSUD) setempat.

Karena pemerintah daerah wajib menyiapkan alat rapid test untuk membantu masyarakat mempercepat penanganan dan pencegahan penyebaran COVID-19 yang sudah pendemi di Papua Barat ini.

Seperti yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni menggratiskan semua orang yang direpid test baik yang punya kepentingan keluar daerah maupun mnereka yang tinggal di tempat.

“Kami Kabupetan Teluk Bintuni gratis rapid test, tugas pemerintah daerah menyiapkan karena kalau kita suruh mereka bayar ditengah pendemi COVID-19 ini harus dipikirkan bahwa, masyarakat punya uang dimana, hidup susah lagi baru bayar pakai apa,” tegas Bupati Teluk Bintuni, Ir Petrus Kasihiw dengan nada tanya saat diwawancara wartawan di Taman Kota, Teluk Bintuni.

Menurut Bupati bahwa, jika pemeriksaan rapid test harus dipungut biaya maka kesadaran masing-masing orang untuk datang diperiksa dalam rangka pencegahan corona virus pasti sedikit mengalami kesulitan.

Dijelaskan orang nomor satu di Kabupaten Teluk Bintuni bahwa pihaknya telah mendapat bantuan gratis dari berbagai pihak selain dianggarkan dari APBD sehingga masyarakat juga tidak dipungut biaya.

Berbeda dengan juru bicara penanganan COVID-19 Kabupaten Manokwari, Bondan Santoso saat dikonfirmasi awak media beberap waktu melalui konfrensi pers secara virtual zoom metting membenarkan bahwa setiap masyarakat yang berpergian keluar daerah baik antar Kabupaten/ Kota dalam provinsi Papua Barat juga daerah kalian wajib menjalani pemeriksaan rapid test.

“Rapid test itu wajib diperiksa bagi setiap orang yang keluar daerah tapi harus dibayar 1 orang 350 ribu rupiah setahu saya, periksanya di rumah sakit swasta,” ujarnya.

Sementara Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Papua Barat, dr Arnold Tiniap mengatakan, pengurusan pemeriksaan rapid test hanya dilakukan di fasilitas kesehatan pemerintah dan digratiskan bagi orang-orang yang mengikuti kegiatan pemerintahan.

“Kalau Teluk Bintuni tidak dipungut biaya itu tidak apa-apa karena pemerintah setempat mampu sedangkan daerah lain masih pakai bayar karena alokasi anggaran ke pengadaan alat rapid tes belum ada,” kata dr Arnold saat konfrensi pers secara virtual dengan awak media di Papua Barat, Sabtu (6/6) malam.

Arnold Tiniap mengatakan, pihanya akan melaporkan kepada ketua umum gugus tugas Provinsi Papua Barat untuk dapat mengalokasikan sejumlah anggaran untuk pengadaan alat rapid tes supaya kedepan masyarakat tidak membayar jika diperiksa. (aba)

sumber: http://papuadalamberita.com/rapid-test-di-bintuni-gratis-manokwari-dipungut-biaya/

Dari Siapa Kasus COVID-19 Mewabah di Kabupaten Sorong? Sembuh 17 Orang, Ini Penjelasan Agus Wabia

Dikutip dari PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI- Gugus Tugas Percepatan Penanganan CoronaVirus 2019 (COVID-19) Papua Barat merilis Kabupaten Sorong memiliki jumlah pasien kasus COVID-19 yang sembuh terbanyak, 17 pasien pada Jumat (5/6/2020), total sembuh di Kabupaten Sorong menjadi 19 orang dari 41 orang yang positif. Pasien sembuh tertua berusia 80 tahun dan termuda berusia satu tahun 10 bulan.

Total sembuh 19 pasien memposisikan Kabupaten Sorong sebagai kabupaten nomor dua di Papua Barat yang pasiennya paling banyak sembuh, setelah urutan pertama ditempati Kabupaten Teluk Bintuni dengan kasus sembuh 35 orang.

Kabupaten Sorong juga sebagai wilayah sebaran kasus positif COVID-19 terbanyak ketiga di Papua Barat, yaitu 41 orang, setelah urutan pertama Kota Sorong kasus positif 58 orang dan Kabupaten Teluk Bintuni sebagai kabupaten kedua dengan pasien positif 45 orang.

Mengapa Kabupaten Sorong menjadi kabupaten terbanyak ketiga positif COVID-19? Dan mengapa pasien COVID-19 paling banyak nomor dua di Papua Barat yang sembuh? Siapa yang membawa masuk wabah yang penularannya melalui lendir hidung dan mulut ke Kabupaten Sorong? Lantas kenapa Kabupaten Sorong begitu cepat menemukan pasien positif?  Dari klaster mana orang terpapar COVID-19 di Kabupaten Sorong?

Bagaimana dukungan masyarakat, pemerintah daerah, TNI, Polri dan tim survelen terhadap Gugus Tugas? Ini penjelasan rinci Juru Bicara Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Sorong, Agus Wabia kepada wartawan secara virtual atau zoom meting Jumat (5/6/2020) yang dipandu Jubir Gugus Tugas Papua Barat, dr Arnoldus Tiniap dari Manokwari.

‘’Kalau bilang dukungan pimpinan daerah,  TNI dan Polri cukup respon untuk percepatan penanganan COVID-19, satu hal yang dilakukan adalah melakukan isolasi terpusat,  itu ada tiga gedung yang kita pakai,’’ ujar juru bicara COVID-19 Kabupaten Sorong.

Adik kandung mantan Pemain Persipura dan Timnas PSSI Roni Wabia ini, Agus Wabia menjelaskan, bahwa  kasus positif COVID-19 di Kabupaten Sorong berawal pada 18 April 2020  Gugus Tugas melakukan rapid tes kepada 25 orang klaster Gowa yang kembali setelah mengikuti Itjima ulama di Gowa Sulawesi Selatan.

‘’25 orang yang dirapid tes, kita temukan 13 orang reaktif, langsung kita karantina terpusat,  13 orang itu berjenis kelamin laki-laki, setelah itu kita melakukan pemeriksaan swab ke Balai Besar Laborotorium (BBL) Makassar.

Hasil dari Makassar 13 orang yang reaktif, 10 orang kasus positif COVID-19, ada dari 12 orang yang non reaktif muncul lagi tiga orang positif.

Jadi total 13 orang, cuman ada tiga warga penduduk Jayapura yang saat itu tidak bisa pulang ke Jayapura karena KM Ciremai pada 26 Maret tidak masuk di Jayapura, ketiganya tinggal sementara di Kota Sorong, dari tiga pasien, satunya masuk dalam data Kota Sorong dan dua pasien masuk data Kabupaten Sorong, jadi 12 orang pertama kali positif COVID-19 di Kabupaten Sorong, kemudian langsung melakukan isolasi di Gedung Dharma Wanita Kabupaten Sorong.

Lanjut Agus Wabia, berawal dari pasien Klaster Gowa, Tim Medis dan Gugus Tugas Kabupaten langsung tracking 82 orang dari keluarga 10 orang Klaster Gowa yang beralamat di Kabupaten Sorong,  hasilnya Gugus Tugas menemukan 16 orang lagi positif, sehingga total positif 28 orang, ini murni Klaster Gowa dan keluarganya, semua pasien langsung di karantina terpusat.

Karena ada pasien pria dan wanita dan pasien berstatus suami istri, Gugus Tugas menambah satu gedung dan membagi-bagi lagi,  pasangan suami istri dalam satu gedung.

‘’Sehingga empat gedung yang di pakai, kita melakukan follow-up, setelah itu kita pisahkan yang positif sendiri, negatif sendiri,’’ rinci Wabia.

Hasil follow-up Kabupaten Sorong terakhir (hari ini 5/6) 17 dinyatakan negatif dan tiga (3) orang negatif pada hari sebelumnya, minggu depan Kabupaten Sorong melakukan follow-up kedua lagi  pada tiga orang  itu mudah-mudahan negatif, sehingga bertambah kasus sembuh.

‘’Jadi Kabupaten Sorong tinggal 22 orang yang positif, lima di rawat di Rumah Sakit  Umum Kabupaten Sorong dan 17 di rawat di ruang isolasi Gedung Dharma Wanita dan Gedung PKK,’’ sebut Wabia.

Wabia mengurai, bahwa melakukan follow-up di rumah sakit COVID di Kampung Baru menggunakan Tes Cepat Molokuler (TCM), karena alat PCR masih diset.

Adik kadung Roni Wabia ini, menjelaskan ada dua metode yang pakai Gugus Tugas Kabupaten Sorong untuk menjaring OTG, ODP, PDP maupun positf, yaitu metode aktif atau pasif.

‘’Kabupaten Sorong menjadi banyak karena kita langsung turun, lapangan awal kita dapat 12 orang pasien pertama positif kita petakan wilayah,  keluarganya mana, petakan kontaknya dimana,  langsung kita ambil, selain itu metode pasif  yaitu warga yang memeriksa kesehatan ke Puskesmas-Puskemas di Kabupaten Sorng, itu mereka langsung  kita screening, hingga kini kita sudah mengambil swab 267 orang ,‘’ urai Wabia.

‘’Hasilnya 41 orang sekarang positif, itu karena selain langsung ke lapangan, survelen mengejar kontak erta, juga di Puskemas -Puskesma setiap warga yang datang kita screening jika ada gejala kita klasifikasi sebagai ODP atau PDP,’’ beberanya.

Menurut Agus Wabia, bahwa pasien  COVID-19 Kabupaten Sorong saat ini berasal dari empat klaster, yaitu Klaster Gowa, Klaster Magetan, Klaster Sukabumi dan Klster Kota Sorong, yaitu ASN asal kabupaten Sorong namun tinggal di Kota Sorong.

Walaupun pasien kasus positif COVID-19 di Kabupaten Sorong terus bertambah dan sembuh, Kabupaten Sorong tidak melakukan pembatasan wilayah seperti memasang portal di pintu-pintu masuk antar kabupaten dan kota, seperti dari lajur Tambrauw, Maybrat, Sorong Selatan atau dari Kota Sorong, semuanya terbuka biasa.

‘’Kita tidak lakukan pembatasan wilayah, karena banyak pegawai kabupaten tinggal di kota . Jadi untuk jalur Sorong, Maybrat,  Sorsel juga lewat di kita (Kabupaten Sorong,’’ jelasnya.

Ditanya bagaimana respon warga setempat setelah mengetahui ada warga Kabupaten Sorong terkonfirmasi positif COVID-19, apakah ada penolakan  warga atau ketertutupan warga?

‘’Saat kita periksa pertama mereka welcome,  bahkan saat mereka kembali dari Gowa ada yang mengisolasi diri sendiri di daerah SP, selain itu ketuanya (itjima ulama) sebagai pensiunan ASN sehingga saat kita komunikasi, beliau langsung megumpulkan semua teman-temannya  yang klaster Gowa termasuk dari Kota Sorong untuk diperiksa di Kabupaten Sorong,’’ ujar Wabia.

‘’Setelah periksa mereka positif,  kita datanggi keluarganya dan kita jemput untuk melakukan pemeriksaan dan ,mereka tidak melakukan penolakan, besok (Sabtu) kita kirim 27 sampel lagi untuk diperiksa di Makassar,’’ tambahnya.

sumber: http://papuadalamberita.com/dari-siapa-kasus-covid-19-mewabah-di-kabupaten-sorong-ini-penjelasn-agus-wabia/